Perempuan Keris : Saya Masih Akan Menjadi ‘Perempuan’ Di Garis Tepi Melawan Batas Wajar

Setiap tahun, tepatnya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, Raden Ajeng Kartini adalah sosok pahlawan perempuan yang tak akan pernah terlupakan oleh kita semua.

Kartini adalah salah-seorang sosok perempuan yang memperjuangkan nilai kesetaraan antara laki – laki dan perempuan ditanah air.

Lantas bagaimana dengan saat ini, masih adakah sosok perempuan seperti RA. Kartini ?

Adalah Ika Arista, Warga Desa Aing Tong-tong Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur satu-satunya perempuan pengrajin keris yang ada di Sumenep atau mungkin di Indonesia. Perempuan berusia 29 Tahun ini, menjadi Empu Keris ia tekuni sejak lama.

Menurut perempuan yang berpenampilan sederhana ini, menjadi Empu Keris bukan hanya semata karena keturunan dari orang tua atau nenek moyangnya, melainkan kewajibannya sebagai kaum muda untuk melestarikan budaya warisan leluhur bangsa.

Ika meyakini sebenar – benarnya empu adalah perempuan, karena perempuan mampu mencetak generasi selama Sembilan bulan, dan mendidiknya sebagai penerus bangsa yang baik.

“Untuk para kartini (perempuan red) diluar sana yang terlahir seperti saya dengan jender perempuan apapun yang anda rasakan hari ini, apapun masalah yang anda alami hari ini, Yakinlah tidak ada jalan buntu, itu hanya belokan yang mungin agak curam, dengan Hari Kartini kita harus punya semangat maju, untuk melangkah lebih baik, percayalah bahwa setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil, saya Ika Arista SELAMAT HARI KARTINI”, Ujar Pengrajin Keris Perempuan di Sumenep.

“ … Saya tak kenal blush on, maskara dan rekan rekannya, Sebab liukan pamor, lipatan baja, dan suara gerindra bergemuru lebih bersemi di dada, Ini Cinta ! biarkan asap bercampur gemuruh menghitamkan kulit, Rambut dan Pipi.

“…Saya masih akan menjadi ‘Perempuan’ di garis tepi melawan batas wajar, “Ika Arista.

 

(Hem/Han)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *